http://mcetak.suaramerdeka.com/PUBLICATIONS/SM/SM/2012/01/17/ArticleHtmls/Integrasi-Pendidikan-Kedinasan-17012012006020.shtml?Mode=1

 

In October 28-29, i attended International Food Conference 2011 at Widya Mandala Catholic University Surabaya.

It was worthy scientific meeting because many scientist from UK, Dutch, Indonesia, Thailand, Iran, Malaysia, Africa, Singapore, Philippine, France, Australia  together shared ideas and discussed about the recent findings of Food Science, Food Technology Science, Food Safety, Food Functional and Health.

At that event I presented an article as oral presenter.

Abstract of the article below :

 

Hygiene and sanitation of warung makan in Tembalang Sub-district, Semarang City, Central Java, Indonesia

Ir. Laksmi Widajanti, M.Si* and Dina R. Pangestuti, STP, M.Gizi

Department Public Health Nutrition, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Jl. Prof. Sudarto, SH Semarang

*Corresponding to: laksmiwid@yahoo.com

 

ABSTRACT

Warung makan (Food Stall) is one of public food service which serves ready to eat food. This place is the most favorite place to eat food with affordable price for students, especially college students. By their activity and economics boundaries, students at Diponegoro University who live at boarding house were preferred to warung makan as a place to find food. Unfortunately, the hygienic and sanitation of most warung makan is far from standard. With regards to consumer safety, the hygienic and sanitation of warung makan is need to be improved. This study was a part of public service activities in Diponegoro University which was conducted in Tembalang Sub-district at August 2011. The objective of this study is to identify the food safety knowledge and hygienic practice among food handlers in warung makan. About 4 food handlers from 2 warung makan which was purposively selected were recruited in this research. A test and observation were performed to evaluate food handler’s food safety knowledge and practice, as well as sanitation at location, respectively. The result showed that most of food handlers have good knowledge on food safety (total score >80), but in contrary, the observation did not show in good sanitation (total score <700). In conclusion, the good knowledge on food safety among warung makan’s food handlers did not concurrent with the hygienic and sanitation. An extension, simulation and assistance are needed to improve their food safety knowledge and proper food handling practices.

Keywords: hygienic and sanitation, food safety, knowledge, warung makan, food handler

 

Best regards,

Laksmi Widajanti

Alhamdulillahirrobbilalamin puji syukur ke hadirat Allah SWT.

 

Pada Rabu, 17 Agusutus 2011, saya mendapatkan Penghargaan Dosen Berprestasi Harapan II Universitas Diponegoro Tahun 2011 bersamaan dengan Upacara Kemerdekaan RI ke 66 Tahun.

Rektor Undip menyerahkan langsung SK, Piagam Penghargaan, dan insentif dalam jumlah yang cukup lumayan kepada saya.

Terima kasih atas kepercayaan dan penghargaan ini semoga memacu semangat untuk mencetak prestasi-prestasi lain yang lebih di masa mendatang.

 

Semarang, 2 November 2011

Laksmi Widajanti

 

 

Dosen Berprestasi FKM Universitas Diponegoro Tahun 2011

 

Pada Kamis dan Jum’at, 12-13 Mei 2011 saya mengikuti Seleksi Dosen Berprestasi di Tingkat Universitas Diponegoro.

Sebuah pengalaman berharga bagi saya di samping pengalaman berkompetisi yang sudah pernah saya lalui.

Ada lima ruangan yang harus saya masuki dengan penguji/pewawancara para Pembantu Rektor Undip (I-III) dan Profesor serta Doktor yang ahli dalam bidang masing-masing.  Saya berusaha menjawab dengan sebaik-baiknya sedangkan tentang hasilnya Tim yang akan menentukan.

Semoga pengalaman ini bisa saya tularkan kepada teman-teman yang berminat.

 

Salam,

Laksmi Widajanti

 

Alhamdulillahirrobbal alamin,

Pada Senin-Selasa, 20-21 Desember 2010 saya mempresentasikan(oral presentation)  artikel hasil penelitian dengan judul : “Modul Pendidikan Gizi untuk Penderita Tuberkulosis Paru” pada Simposium Nasional (Simnas) 6 Badan Pengembangan dan Penelitian Kesehatan Kemenkes RI di JCC Jakarta.

Sebagai Narasumber/Penyaji saya diberi Penghargaan III Penyaji Terbaik pada Simnas 6 Balitbangkes Kemenkes RI.

Untuk itu saya menerima Piala, Penghargaan dan Sertifikat/Piagam.

Mudah-mudahan pengalaman berkesan tersebut dapat memacu prestasi saya ke depan lebih banyak dan lebih baik.

Salam,

Ir. Laksmi Widajanti, M.Si

Kuliah Perdana Mata Kuliah Ekologi Pangan dan Gizi bagi Mahasiswa Semester V Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro hari ini Selasa, 7 September 2010 telah dilaksanakan dengan baik pada pukul 07.30-08.50. Meskipun dalam suasana puasa Ramadhan namun mahasiswa tetap semangat mengikuti perkuliahan perdana ini.

Kuliah berisi tentang Kontrak Perkuliahan dan Pengantar Student Centered Learning dengan menggunakan Problem Based Learning.  Kuliah dipandu langsung oleh Penanggung Jawab MK Ekologi Pangan dan Gizi (Ir. Laksmi Widajanti, M.Si).  Dalam kesempatan ini dijelaskan peran soft skill di samping hard skill dalam membentuk karakter ilmuwan sejati khususnya dalam menganalisis Sistem Pangan dan Gizi.

Kontrak Perkuliahan termasuk Jadwal Perkuliahan dapat diakses dari blog ini.

Beberapa alamat web yang bisa dipakai untuk mencari artikel yang relevan :

http://www.ajcn.org

http://www.nutrition.org

http://www.gizi.net

http://persagi.org.id

http://hdr.undp.org/en/reports/global/hdr2007-2008/

Salam,

PJMK

Ir. Laksmi Widajanti, M.Si

VISION, MISSION, AND WORK PROGRAM
DEAN CANDIDATE IN FACULTY OF PUBLIC HEALTH
DIPONEGORO UNIVERSITY YEAR 2010-2014

BY : LAKSMI WIDAJANTI

VISION
Faculty of Public Health Diponegoro University as health sciences development institution based on comfort research and its results useful for public

VISI
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Sebagai Pengembang Ilmu-ilmu Kesehatan berbasis Riset yang Nyaman dan Berguna bagi Masyarakat

MISSION
To create Faculty of Public Health Diponegoro University as comfort Research Faculty and its results useful for public and based on prevention and promotion approach

MISI
Menjadikan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro sebagai Fakultas Riset yang Nyaman dan Berguna bagi Masyarakat berbasis Prevensi dan Promosi.

WORK PROGRAMS
1. Human resources development
2. Education Management
3. Research and Civil Servant Management
4. Harmonization in work condition
5. Skill Improvement
6. Improving Laboratory and Education equipments

PROGRAM KERJA
1. Pengembangan SDM
2. Penyelenggaraan Pendidikan
3. Penyelenggaraan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
4. Asah, Asih, Asuh
5. Skill Improvement
6. Peningkatan Sarana dan Prasarana

Assalamu’alaikum wr. wb.

Hari ini, Selasa 10 Agustus 2010 pukul 12.15 saya menerima surat dari Panitia Pemilihan Dekan FKM UNDIP Tahun 2010-2014.

Sebagai salah satu bakal calon Dekan FKM UNDIP Tahun 2010-2014 maka saya akan berusaha menampilkan visi dan misi serta program kerja yang sebaik-baiknya.

Bismillahirrahmaanirrahiim ya Allah di awal bulan Ramadhan yang penuh berkah dan rahmah  ini aku membulatkan tekad untuk memberikan yang terbaik untuk FKM UNDIP-ku tercinta.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Laksmi Widajanti

Berandai Halal Seperti Bank Islam

Oleh Laksmi Widajanti
Beberapa hari lalu, saya dicengangkan oleh penipuan produk
makanan yang dengan kedok label halal ternyata berisi abon babi.
Penemuan itu sungguh mengejukan, karena dengan mencantumkan halal
berarti secara sengaja dan sistematis telah melakukan penipuan.
Dan, korbannya sudah pasti umat Islam.
Dalam Islam memang sewaktu-waktu memang boleh saja memakan
sesuatu yang dianggap tidak haram. Namun, kebolehan hal itu hanya
terkait dengan konteks emergency (dharuri) di mana pilihan tidak
ada atau sangat sulit sehingga kalau tidak makan, malapetaka
seperti kematian dan sakit yang akan diperoleh. Dengan kata lain,
jika pilihan sangat terbuka, tidak sebaiknya sikap permisivisme
dengan dalih tidak tahu, tidak perlu bertanya, atau sebagaimana
disebutkan dalam sebuah anekdot ala Gus Dur, Jangan bertanya
takut ketahuan keharamannya menjadi acuan umat Islam ketika
hendak mengkonsumsi makanan. Sebaliknya seorang muslim harus
berhati-hati, karena masalah makanan dalam Islam tidak hanya
berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi tubuh yang
dengannya bisa menjadi sehat dan kuat, tapi menyangkut pemenuhan
tuntutan doktrin transenden, yaitu perintah Allah agar seorang
muslim harus memakan yang halal dan baik (halal dan thayyib).
Berkaitan dengan hal itu thayyib saja (secara pengertian
kosa kata bahasa Arab berarti baik) tidak cukup, karena dimensi
itu hanya memenuhi aspek lahir saja. Dimensi lahir di maksud
adalah bahwa segala binatang adalah sumber protein tanpa
membedakan apakah itu kambing atau babi yang sama-sama bisa
memberikan manfaat dalam pemberian zat gizi bagi manusia. Dengan
kata lain, jika hanya thayyib yang menjadi ukuran, semua binatang
bisa dimasukkan ke dalam kategori thayyib sehingga sah-sah saja
jika kemudian semua binatang dianggap layak untuk dikonsumsi.
Akan tetapi, dalam Islam tidak demikian halnya, karena di samping
dimensi lahir itu ada aspek trancendence yang tolok ukurannya
bukan lahir seperti kesamaan kambing dan babi dalam manfaat zat
gizinya bagi manusia, namun lebih kepada pemenuhan aspek dogmatis
di mana tolok ukurnya adalah apakah sesuai dengan syariah atau
tidak.
Jika hanya thayyib yang menjadi landasan, semua makanan
yang bisa mendatangkan manfaat bagi tubuh dengan sendirinya
thayyib. Akan tetapi, jika aspek transcendence itu ditambahkan,
maka harus ditambah dengan satu dimensi lagi, yaitu halal. Halal
dalam Alquran memang berkait berkelindan dengan thayyib. Namun,
tidak ada keidentikan, karena sesuatu yang thayyib tidak mesti
halal seperti contoh babi itu di mana meskipun thayyib dalam arti
bergizi, namun tidak halal. Kalau demikian apa halal itu?
Sebagaimana disebutkan bahwa thayyib merupakan bagian dari
halal. Namun, ada aspek lain yang harus dipenuhi agar sebuah
makanan dianggap halal. Aspek itu seperti jenis binatang dan
penyembelihan. Kedua hal itu harus dicermati, karena memang
menjadi landasan penilaian apakah sebuah makanan hewani yang akan
dikonsumsi halal atau tidak. Berkaitan dengan hewan, Allah dan
Rasul-Nya telah menyebutkan sejumlah jenis binatang yang halal
meskipun dalam pengembangannya di kemudian hari menimbulkan
kontroversi di kalangan ulama. Hewan-hewan yang dilarang itu,
jelas jika dikaitkan dengan doktrin thayyib selama tidak beracun
adalah baik dan laik. Namun jika dikaitkan dengan adanya larangan
untuk mengkonsumsi jelas tidak halal. Begitu juga, meskipun jenis
binatang yang akan dimakan masuk jenis binatang yang tidak
dilarang, namun jika proses penyembelihannya tidak sesuai ajaran
Islam, meskipun dagingnya thayyib, tidak halal untuk dikonsumsi.
Di samping, makanan halal juga ketika diproses tidak bercampur
dengan sesuatu yang haram dan juga cara mendapatkannya haruslah
tidak melalui cara-cara yang dilarang.
Dengan demikian, masalah halal tidak hanya terkait dengan
apakah bermanfaat atau tidak melainkan berkaitan dengan doktrin
keagamaan yang mesti ditaati. Oleh sebab itu, sudah
semestinya mengingat jaminan untuk mengamalkan keyakinan agama
itu masuk ranah HAM semua pihak mengapresiasi masalah itu dan
memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk secara leluasa
mendapatkan makanan yang tidak hanya aman (thayyib), tapi juga
sesuai secarai syariah (halal).
Berkaitan dengan masalah halal, Indonesia semestinya
berkaca kepada dunia Barat dan Thailand yang meskipun di negara-
negara itu muslim tidak mencapai jumlah signifikan seperti di
negeri ini, halal mendapatkan tempat terhormat. Apresiasi
terhadap masalah pangan halal tersebut didasari selain oleh
pengamalan terhadap HAM, juga dimotivasi oleh fenomena
berkembangnya Islam di negara-negara itu yang berarti adalah
potensi pasar yang menjanjikan bagi perekonomian.
Di tengah-tengah menguatnya apresiasi halal di dunia
berpenduduk minoritas muslim, di Indonesia masalah tersebut masih
menjadi kontroversial, karena setiap regulasi selalu mendapatkan
tantangan. Tidak hanya dari non-muslim tantangan itu datang, tapi
dari kalangan muslim sendiri yang ingin berebut jatah
sertifikasi. Akibat adanya tantangan itu, upaya yang diprakarsai
Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak awal tahun Sembilan puluhan,
dibenturkan dengan sebuah argumen bahwa sertifikasi hanya akan
menambah biaya produksi dan itu berarti harga akan semakin mahal.
Kenapa masalah sertifikasi tersebut di negara-negara Barat dan
lainnya tidak pernah diperdebatkan?
Kalau dihadapkan kepada persoalan kenaikan ongkos saja,
memang akan selalu menjadi kontroversi. Akan tetapi, semestinya
tidak hanya itu yang menjadi perhatian, karena konsumen pun
mempunyai hak dalam memenuhi makanan yang sesuai dengan keyakinan
mereka. Oleh sebab itu, semua pihak harus menyadarkan umat Islam
makanan halal sangat penting bagi mereka, karena masalah itu
bukan semata-mata agar mereka sehat, tapi juga jauh lebih tinggi
dari soal itu adalah mentaati perintah Tuhan yang tidak hanya
berkaitan dengan aspek menyehatkan, tapi juga mentaati ajaran
agama.
Berkaitan dengan masalah itu, mari kita berkaca dengan
Bank Syariah (Bank Islam) yang ketika akan lahir ditentang keras.
Namun, ketika perbankan itu dianggap lebih kebal dari terpaan
krisis dan menjanjikan prospek keuntungan jangka panjang semua
negara berlomba mendirikannya di samping berlomba mendirikan
kajian akademik yang mahasiswanya berasal dari negara Islam.
Akankah, kesadaran kita dalam soal pangan halal seperti masalah
Bank Syariah, ketika Barat sudah siap mengeskpor halal ke dunia
Islam? Kenapa tidak negara mayoritas muslim yang mengekspor halal
ke dunia Barat dan negara minoritas muslim?
Penulis adalah lulusan GMSK IPB dan dosen Bagian Gizi Kesmas FKM
Universits Diponegoro.
http://www.hupelita.com/baca.php?id=67775 [31 Juli 2010]

Pencarian artikel
dengan kata kunci: Laksmi Widajanti

1. Berandai Halal Seperti Bank Islam
2. Banjir dan Masalah Pangan Laksmi Widajanti
3. Halal Sebagai Sebuah Keharusan
4. Realitas Maya Polling Politik
5. Menyoal Label Halal